Senin, 04 Juli 2011

asuhan keperawatan nyeri kepala migrein


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Migren merupakan salah satu keluhan nyeri kepala yang banyak dijumpaidi masyarakat. Hal ini pastilah sangat mengganggu, bukan hanya menimbulkanrasa tidak nyaman atau sakit, tapi juga menghambat produktifitas di kehidupansehari-hari. Migren dapat terjadi karena beberapa penyebab, seperti stres,perubahan hormon, makanan, faktor fisik, dll. 
Migrain atau nyeri kepala sebelah adalah salah satu penyakit yang diperkirakan diderita oleh 25% wanita dan 10% pria di seluruh dunia. Secara statistik, wanita tiga kali lebih sering terkena migrain dibanding laki-laki dan lebih banyak diderita orang dewasa di usia 20 hingga 50 tahun. Seiring pertambahan usia, tingkat keparahan dan frekuensinya pun ikut menurun. Dari hasil penelitian epidemiologi,migren terjadi pada hampir 30 jutapenduduk Amerika Serikat, 75 % diantaranya adalah wanita. Migren dapatterjadi pada semua usia, tetapi biasanya muncul antara usia 10-40 tahun danangka kejadiannya menurun setelahusia 50 tahun. Migren tanpa aura umumnyalebih sering dibandingkan migren disertai aura dengan persentase sebanyak 90%. 

1.2 Rumusan Masalah
1.1.1   Apa definisi dari Migren?
1.1.2   Apa saja klasifikasi dari Migren?
1.1.3   Apa saja etiologi dari Migren?
1.1.4   Bagaimana patofisiologi dari Migren?
1.1.5   Bagaimana manifestasi klinik dari Migren?
1.1.6   Bagaimana penatalaksanaan dari Migren?
1.1.7   Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Migren?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum: Untuk memenuhi tugas sistem neurobehavior yang berupa makalah Nyeri Kepala Migren.
1.3.2 Tujuan Khusus:
1.3.2.1 Untuk mengetahiu pengertian dari Migren.
1.3.2.2 Untuk mengetahui klasifikasi dari Migren.
1.3.2.3 Untuk mengetahui penyebab dari Migren.
1.3.2.4 Untuk mengetahui patofisiologi dari Migren.
1.3.2.5 Untuk mengetahui manifestasi klinik dari Migren.
1.3.2.6 Untuk mengetahui penatalaksanaan dari Migren.
1.3.2.7 Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada Migren.
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Bagi institusi        :  Sebagai tambahan sumber bacaan di perpustakaan
1.4.2 Bagi pembaca        : Untuk menambah wawasan kita mengenai pengertian, penyebab, patofisiologi, tanda gejala, serta tatalaksana dari Migren tersebut.
1.4.3 Bagi penulis           :Terpenuhinya tugas sistem neurobehavior yang berupa makalah Migren.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
            Migrain atau sering juga disebut sakit kepala atau pusing sebelah adalah nyeri kepala berdenyut yang kerapkali disertai mual, muntah. Penderita biasanya sensitif terhadap cahaya, suara, bahkan bau-bauan. Sakit kepala ini paling sering hanya mengenai satu sisi kepala saja, kadang-kadang berpindah ke sisi sebelahnya, tetapi dapat mengenai kedua sisi kepala sekaligus. Migrain kadang kala agak sulit dibedakan dengan sakit kepala jenis lain. Sakit kepala akibat gangguan pada sinus atau akibat ketegangan otot leher mempunyai gejala yang hampir sama dengan gejala migrain. Migrain dapat timbul bersama penyakit lain misalnya asma dan depresi. Penyakit yang sangat berat, misalnya tumor atau infeksi, dapat juga menimbulkan gejala yang mirip migrain. Namun kejadian ini sangat jarang.
2.2 Klasifikasi Migren
1. Migrain Biasa: Kebanyakan penderita migrain masuk ke dalam jenis ini. Migrain biasa ditandai dengan nyeri kepala berdenyut di salah satu sisi dengan intensitas yang sedang sampai berat dan semakin parah pada saat melakukan aktifitas. Migrain ini juga disertai mual, muntah, sensitif terhadap cahaya, suara, dan bau. Sakit kepala akan sembuh dalam 4 sampai 72 jam, sekalipun tidak diobati.
2. Migrain Klasik: Pada jenis klasik, migrain biasanya didahului oleh suatu gejala yang dinamakan aura, yang terjadi dalam 30 menit sebelum timbul migrain. Migrain klasik merupakan 30% dari semua migrain.

2.3 Etiologi
                Bagi pasien dengan migren yang menahun, sering berulang, sebaiknya mencari faktor pencetus serangan. Beberapa faktor yang dapat mencetuskan migren adalah : kurangnya jam tidur, terlalu banyak tidur ( di akhir pekan saat anda libur tidak bekerja ), saat menstruasi, adanya cahaya yang berlebih, suara yang terlalu bising, dan hipoglikemia ( misalnya : saat anda telat makan ). Beberapa obat dapat pula mencetuskan serangan migren ini seperti : nitrat, klorokuin, obat kontrasepsi, indometasin , Alkohol dan makanan tertentu yang mengandung tyramine, nitrate , monosodium glutamat , dsb . Contoh makanan yang mengandung vasoactive amines ( tyramine dan b-phenylethylamines ) adalah : keju, coklat, kacang-kacangan, jeruk sitrus, bawang merah. Contoh makanan yang mengandung nitrat : daging ham, saus, hot dog, daging. Contoh makanan yang mengandung monosodium glutamat : makanan dengan penyedap/ vetsin yang banyak misalnya pada masakan cina, saus, beberapa makanan kaleng.
2.3 Patofisiologi
            Mekanisme dasar bagi korteks serebri untuk menghindari kerusakan organ ialah dengan mengurangi pasokan darah menuju otak, sehingga akan terjadi perubahan diameter pembuluh darah otak, yang bermanifestasi sakit kepala akibat perubahan vaskular tersebut. Secara klinis, sakit kepala dibagi menjadi dua kategori; sakit kepala primer dan sakit kepala sekunder. Sakit kepala primer terjadi tanpa kerusakan organ (etiologi struktural), misalnya sakit kepala vaskular (migren), cluster headache, tension headache, dan sakit kepala akibat penggunaan obat yang berlebih. Sedangkan sakit kepala sekunder terjadi karena adanya kerusakan struktural atau organik. Vasokontriksi intrakranial di bagian luar korteks berperan dalam terjadinya migren dengan aura. Pendapat ini diperkuat dengan adanya nyeri kepala disertai denyut yang sama dengan jantung. Pembuluh darah yang mengalami konstriksi terutama terletak di perfier otak akibat aktivasi saraf nosiseptif setempat. Teori ini dicetuskan atas observasi bahwa pembuluh darah ekstrakranial mengalami pelebaran sehingga akan teraba denyut jantung. Pelebaran ini akan menstimulasi orang sadar yang diterjemahkan sebagai sakit kepala. Dalam keadaan yang demikian, vasokonstriktor (misalnya golongan senyawa ergot) akan mengurangi sakit kepala, sedangkan vasodilator (misalnya nitrogliserin) akan memperburuk sakit kepala.
            migren dengan aura juga telah diketahui dengan baik, dikenal dengan teori cortical spreading depression (CSD). Aura terjadi karena terdapat eksitasi neuron di substansia nigra yang menyebar dengan kecepatan 2-6 mm/menit. Penyebaran ini diikuti dengan gelombang supresi neuron dengan pola yang sama sehingga membentuk irama vasodilatasi yang diikuti dengan vasokonstriksi. Prinsip neurokimia CSD ialah pelepasan Kalium atau asam amino glutamat eksitatori dari jaringan saraf sehingga terjadi depolarisasi dan pelepasan neurotransmitter lagi, depresi saraf pun menyebar.

CSD pada episode aura akan menstimulasi nervus trigeminalis nukleus kaudatus, memulai terjadinya migren. Pada migren tanpa aura, kejadian kecil di neuron juga mungkin merangsang nukleus kaudalis kemudian menginisiasi migren. Nervus trigeminalis yang teraktivasi akan menstimulasi pembuluh kranial untuk dilatasi. Hasilnya, senyawa-senyawa neurokimia seperti calcitonin gene-related peptide (CGRP) dan substansi P akan dikeluarkan, terjadilah ekstravasasi plasma. Kejadian ini akhirnya menyebabkan vasodilatasi yang lebih hebat, terjadilah inflamasi steril neurogenik pada kompleks trigeminovaskular. Selain CSD, migren juga terjadi akibat beberapa mekanisme lain, di antaranya aktivasi batang otak bagian rostral, stimulasi dopaminergik, dan defisiensi magnesium di otak. Mekanisme ini bermanifestasi pelepasan 5-hidroksitriptamin (5-HT) yang bersifat vasokonstriktor. Pemberian antagonis dopamin, misalnya Proklorperazin, dan antagonis 5-HT, misalnya Sumatriptan dapat menghilangkan migren dengan efektif.

2.5 Manifestasi Klinik
1. Gejala Awal: Satu atau dua hari sebelum timbul migrain, penderita biasanya mengalami gejala awal seperti lemah, menguap berlebih
2. Nyeri Kepala: Sakit kepala migren sering digambarkan sebagai sebuah sakit kepala yang hebat, berdenyut dan menyerang kepala pada satu sisi. Kadang kadang sakit dirasakan di dahi, sekitar mata dan dibelakang kepala sehingga mengaburkan gejala dengan sakit kepala yang lain. Walau sebagian besar migren menyerang pada satu sisi kepala, namun sering juga dijumpai gejala migren pada kedua sisi kepala. Sisi kepala yang terserang migren pun sering bergantian pada setiap kali serangan. Hati hati bila sisi kepala yang terserang selalu sama, kemungkinan lain adalah terjadinya suatu tumor otak. Penderita migren sering tersiksa dalam melakukan aktifitas sehari hari terutama saat serangan terjadi.
3. Gejala lain: Gejala lain yang menyertai migren antara lain, mual, muntah, diare, wajah pucat, kaki tangan dingin, serta penderita akan sensitif terhadap cahaya dan suara. Akibat terjadinya peningkatan sensitifitas terhadap cahaya dan suara maka penderita migren harus berbaring di ruangan yang sepi dan gelap. Serangan migren biasanya akan mereda dalam 4 sampai 72 jam.
4. Gejala akhir: Gejala Akhir: Setelah nyeri kepala sembuh, penderita mungkin merasa nyeri pada ototnya, lemas, atau bahkan merasakan kegembiraan yang singkat. Gejala-gejala ini menghilang dalam 24 jam setelah hilangnya sakit kepala.

2.6 Penatalaksanaan
1. Non Farmakologi
Pengobatan tanpa obat biasanya dilakukan untuk meringankan gejala migren dan untuk pencegahan. Relaksasi dipercaya mampu mencegah timbulnya serangan migren bila dilakukan saat gejala pendahuluan. Jika memungkinkan, tidur merupakan obat yang paling mujarab. Untuk mencegah timbulnya migren, pasien dapat dimotivasi untuk mengubah pola hidup yang selama ini dicurigai dapat mencetuskan timbulnya migren. Hal ini termasuk menghentikan kebiasaan merokok, menghindari makanan yang banyak mengandung tiramin seperti keju, hindari pula makanan yang mengandung nitrat tinggi seperti kacang kacangan. Selain itu harus segera melakukan apa yang disebut pola hidup sehat seperti makan makanan yang bergizi, minum yang cukup, tidur yang cukup, dan olah raga yang teratur.
2. Farmakologi
Penderita migren yang ketika serangan terjadi tidak terlalu mempengaruhi aktifitasnya sehari hari cukup diberikan obat penghilang nyeri (analgetik) yang banyak dijual di warung warung. Walaupun demikian, penggunaan obat ini harus selalu memperhatikan aturan pakai yang tertera di bungkus obat tersebut guna mencegah hal hal yang tidak diingini.
Terdapat dua golongan obat analgetik yang umum digunakan yaitu Acetaminophen (Paracetamol) dan NSAID atau Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs. Obat NSAID dibagi lagi menjadi dua jenis yaitu aspirin dan non-aspirin. Yang termasuk ke dalam golongan NSAID non-aspirin antara lain ibuprofen dan naproxen. Beberapa jenis dari obat NSAID ini dapat diperoleh dengan menggunakan resep dokter. Selain untuk migren, obat NSAID juga digunakan untuk mengobati radang sendi, radang tendon dan lain lain.
Acetaminophen atau paracetamol bekerja di pusat nyeri otak untuk mengurangi rasa nyeri dan demam. Acetaminophen mempunyai efek samping yang sangat minim terutama pada lambung bila dibandingkan dengan obat NSAID. Meskipun demikian, bila digunakan secara serampangan dan melebihi dosis yang dianjurkan, acetaminophen dapat menyebabkan kerusakan hati yang lumayan berat. Pada pasien yang suka minum alkohol, acetaminophen dapat menyebabkan kerusakan hati walau diberikan pada dosis yang rendah. Kesimpulannya, selalulah membaca aturan pakai obat yang tertera di label obat untuk mencegah keracunan atau kelebihan dosis.
Obat NSAID mengurangi nyeri dengan cara mengobati reaksi inflamasi yang menyebabkan terjadinya nyeri. Obat ini disebut non steroid karena memang berbeda dari obat steroid walaupun sama sama mempunyai efek mencegah terjadinya reaksi inflamasi. Obat obat yang termasuk ke dalam golongan steroid (kortikosteroid) tidak dipergunakan karena mempunyai efek samping yang kurang bagus bila digunakan dalam jangka waktu yang lama. Efek samping ini tidak ditemukan pada obat NSAID.
Untuk mengobati sakit kepala, beberapa dokter menggunakan kombinasi antara aspirin, acetaminophen, dan kafein. Ketiga obat ini mempunyai efek sinergis untuk meringankan gejala sakit kepala.

           







BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dari dasar dalam proses keperawatan secara keseluruhan guna mendapat data atau informasi yang dibutuhkan untuk menentukan masalah kesehatan yang dihadapi pasien melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik meliputi :
1. Biodata : Nama ,umur, sex, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan,,
2. Riwayat Penyakit sekarang :
3. Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh sakit kepala sebelah.
4. Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang.
5. Riwayat spikososial
a. Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih)
b. Interpersonal : hubungan dengan orang lain.
6. Pemeriksaan fisik
a. status kesehatan umum : keadaan umum , tanda vital, kesadaran.
b. Pemeriksaan fisik.



3.2 Diagnosa Keperawatan
            1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan TIK
2. Isolasi sosial : Menarik diri Berhubungan dengan konsep diri harga diri rendah
3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah Berhubungan dengan koping individu tidak efektif
4. Gangguan pola tidur Berhubungan dengan ansietas
3.3 Intervensi Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan TIK
Tujuan : Terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri, dengan kriteria klien melaporkan terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri
INTERVENSI
RASIONAL
1. Kaji tingkat nyeri, beratnya (skala 0 – 10)
2. Berikan istirahat dengan posisi semifowler
5. Observasi TTV tiap 24 jam
6. Diskusikan dan ajarkan teknik relaksasi
7. Kolaborasi dengan pemberian obat analgesik
1. Berguna dalam pengawasan kefektifan obat, kemajuan penyembuhan
2. Dengan posisi semi-fowler dapat menghilangkan tegangan kepala yang bertambah dengan posisi telentang
5. sebagai indikator untuk melanjutkan intervensi berikutnya
6. Mengurangi rasa nyeri atau dapat terkontrol
7. Menghilangkan rasa nyeri dan mempermudah kerjasama dengan intervensi terapi lain

2. Isolasi sosial : Menarik diri Berhubungan dengan konsep diri harga diri rendah
Tujuan: Klien dapat Berhubungan dengan orang lain secara optimal
Intervensi
  1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi Therapeutik
  2. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
  3. Utamakan memberi pujian yang realistik
  4. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit
  5. Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat digunakan / dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
  6. Beri kesempatan kepada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
  7. Beri pujian atas keberhasilan klien
  8. Beri pendidikan kesehatan dan bantu keluarga memberikan dukungan pada klien

3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah Berhubungan dengan koping individu tidak efektif
Tujuan: Klien dapat memperlihatkan peningakatan harga diri yang dibuktikan dengan mengekspresikan secara verbal aspek – apek positif dirinya.
Intervensi
a. Bina hubungan saling percaya dengan prinsip komunikasi terapeutik
b. Gali mekanisme koping yang digunakan klien dimasa lalu
c. Tunjukkan akibat maladaptif dari koping yang digunakan
d. Dorong klien untuk menggunakan respon koping yang adaptif
e. Tawarkan beberapa alternatif koping yang dapat dilakukan
f. Bantu klien untuk memilih koping adaptif
g. Bantu klien dalam menggunakan koping yang adaptif
4. Gangguan pola tidur Berhubungan dengan ansietas
Tujuan: Klien mampu tidur 6 – 8 jam tanpa terputus tanpa bantuan obat
Intervensi
a. Gali penyebab ansietas
b. beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
c. bantu klien untuk mengungkapkan penyebab ansietasnya
d. pantau pola tidur klien
e. kaji tingkat aktifitas klien
f. kaji gangguan pola tidur yang langsung Berhubungan dengan rasa takut dan ansietas tertentu
g. berikan lingkungan yang tenang dengan tingkat stimulus yang rendah
h. sebelum tidur berikan tindakan keperawatan yang mendukung tidur seperti minum hangat dan latihan relaksasi
i. cegah minuman yang mengandung kafein seperti the, kopi dan cola
j. berikan obat – obatan penenang sesuai yang diprogramkan














BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
            Migren merupakan salah satu keluhan nyeri kepala yang banyak dijumpaidi masyarakat. Hal ini pastilah sangat mengganggu, bukan hanya menimbulkanrasa tidak nyaman atau sakit, tapi juga menghambat produktifitas di kehidupansehari-hari. Migren dapat terjadi karena beberapa penyebab, seperti stres,perubahan hormon, makanan, faktor fisik, dll. 
Migrain atau nyeri kepala sebelah adalah salah satu penyakit yang diperkirakan diderita oleh 25% wanita dan 10% pria di seluruh dunia. Secara statistik, wanita tiga kali lebih sering terkena migrain dibanding laki-laki dan lebih banyak diderita orang dewasa di usia 20 hingga 50 tahun. Seiring pertambahan usia, tingkat keparahan dan frekuensinya pun ikut menurun. Dari hasil penelitian epidemiologi,migren terjadi pada hampir 30 jutapenduduk Amerika Serikat, 75 % diantaranya adalah wanita. Migren dapatterjadi pada semua usia, tetapi biasanya muncul antara usia 10-40 tahun danangka kejadiannya menurun setelahusia 50 tahun. Migren tanpa aura umumnyalebih sering dibandingkan migren disertai aura dengan persentase sebanyak 90%. 

4.2 Saran
            Untuk meminimalisir dan mencegah migren hendaknya kita selau menjaga pola hidup kita secara sehat. Penguatan mekanisme koping dalam menahan laju stressor hendaknya harus kita pertebal agar kita terhindar dari migren.




DAFTAR PUSTAKA
Brunner dan Suddarth, (2001) Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8, volume 2, penerbit EGC.
Doengoes, Marylin E., 1989, Nursing Care Plans, USA Philadelphia: F.A Davis Company.
Guyton, C. Arthur, (1991), Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, Missisipi; Departemen of Physiology and Biophysis. EGC. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.
Junadi, Purnawan,(2000), Kapita Selekta Kedokteran, edisi ke III, penerbit FKUI, Jakarta.

Long, Barbara C, (1996), Keperawatan Medikal Bedah, EGC. Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta
Ana Budi Kelliat, 1984, Asuhan keperawatan gangguan kognitif, EGC,    Jakarata













Sabtu, 14 Mei 2011

askep malnutrisi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Malnutrisi merupakan masalah yang menjadi perhatian internasional serta memiliki berbagai sebab yang saling berkaitan. Penyebab malnutrisi menurut kerangka konseptual UNICEF dapat dibedakan menjadi penyebab langsung (immediate cause), penyebab tidak langsung (underlying cause) dan penyebab dasar (basic cause).
Di Indonesia, penderita Malnutrisi terdapat di kalangan ibu dan masyarakat yang kurang mampu ekonominya. Kondisi anak dengan gejala Malnutrisi dianggap kondisi “biasa” dan dianggap sepele oleh orang tuanya. Masyarakat di Indonesia, para ibunya berpendapat bahwa anak yang buncit perutnya bukan kekurngan nutrisi, melainkan karena penyakit cacingan.  
Kematian akibat Malnutrisi dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makanan  yang mengakibatkan kurangnya jumlah makanan yang diberikan, kurangnya kualitas makanan yang diberikan dan cara pemberian makanan yang salah. Selain itu juga karena adanya penyakit, terutama penyakit infeksi, mempengaruhi jumlah asupan makanan dan penggunaan nutrien oleh tubuh.
.
1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        Apa pengertian dari Malnutrisi?
1.2.2        Etiologi dari Malnutrisi?
1.2.3        Apa tanda dan gejala dari Malnutrisi?
1.2.4        Patofisiologi dari Malnutrisi?
1.2.5        Bagaimana Klasifikasi dari Malnutrisi?
1.2.6        Bagaimana insiden terjadinya Malnutrisi?
1.2.7        Bagaimana penatalaksanaan yang tepat penderita Malnutrisi?




1.3  Tujuan Penulisan
1.3.1        Tujuan umum
Untuk memenuhi tugas Sistem Pencernaan yang berupa makalah tentang Malnutrisi.
1.3.2        Tujuan khusus
1.3.2.1  Untuk mengetahui pengertian dari Malnutrisi.
1.3.2.2  Untuk mengetahui penyebab dari Malnutrisi.
1.3.2.3  Untuk mengetahui tanda dan gejala dari Malnutrisi.
1.3.2.4  Untuk mengetahui Patofisiologi dari Malnutrisi.
1.3.2.5  Untuk mengetahui Klasifikasi dari Malnutrisi.
1.3.2.6  Untuk mengetahui Insiden terjadinya Malnutrisi.
1.3.2.7  Untuk mengetahui tatalaksana yang tepat pada Malnutrisi.

1.4  Manfaat Penulisan
1.4.1 Bagi institusi        :  Sebagai tambahan sumber bacaan di perpustakaan
1.4.2 Bagi pembaca       : Untuk menambah wawasan kita mengenai pengertian, penyebab, patofisiologi, tanda gejala, serta tatalaksana dari Malnutrisi tersebut.
1.4.3 Bagi penulis   :Terpenuhinya tugas sistem pencernan yang berupa makalah Malnutrisi.












BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Malnutrisi adalah suatu keadaan di mana tubuh mengalami gangguan terhadap absorbsi, pencernaan, dan penggunaan zat gizi untuk pertumbuhan, perkembangan dan aktivitas.
            Malnutrisi merupakan kekurangan konsumsi pangan secara relatif  atau absolute untuk periode tertentu. (Bachyar Bakri, 2002)
            Malnutrisi (Gizi salah) adalah kesalahan pangan terutama terletak dalam ketidakseimbangan komposisi hidangan penyediaan makanan. (Akhmad Djaeni, 2004).

2.2 Etiologi
a.       Penyebab langsung:
1.      Kurangnya asupan makanan: Kurangnya asupan makanan sendiri dapat disebabkan oleh kurangnya jumlah makanan yang diberikan, kurangnya kualitas makanan yang diberikan dan cara pemberian makanan yang salah.
2.      Adanya penyakit: Terutama penyakit infeksi, mempengaruhi jumlah asupan makanan dan penggunaan nutrien oleh tubuh.

b.      Penyebab tidak langsung:
1.      Kurangnya ketahanan pangan keluarga: Keterbatasan keluarga untuk menghasilkan atau mendapatkan makanan.
2.      Kualitas perawatan ibu dan anak.
3.      Buruknya pelayanan kesehatan.
4.      Sanitasi lingkungan yang kurang.

2.3 Manifestasi klinis
            Adapun tanda dan gejala dari malnutrisi adalah sebagai berikut:
  1. Kelelahan dan kekurangan energi
  2. Pusing
  3. Sistem kekebalan tubuh yang rendah (yang mengakibatkan tubuh kesulitan untuk melawan infeksi)
  4. Kulit yang kering dan bersisik
  5. Gusi bengkak dan berdarah
  6. Gigi yang membusuk
  7. Sulit untuk berkonsentrasi dan mempunyai reaksi yang lambat
  8. Berat badan kurang
  9. Pertumbuhan yang lambat
  10. Kelemahan pada otot
  11. Perut kembung
  12. Tulang yang mudah patah
  13. Terdapat masalah pada fungsi organ tubuh
2.4 Patofisiologi
Sebenarnya malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat digolong-kan atas tiga faktor penting yaitu : tubuh sendiri (host), agent (kuman penyebab), environment (lingkungan). Memang faktor diet (makanan) memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut menentukan
Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mem-pergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan; karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan di ginjal. Selama puasa jaringan lemak dipecah jadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi setelah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh. Pada Malnutrisi, di dalam tubuh sudah tidak ada lagi cadangan makanan untuk digunakan sebagai sumber energi. Sehingga tubuh akan mengalami defisiensi nutrisi yang sangat berlebihan dan akan mengakibatkan kematian.
2.5 Klasifikasi
Kurang Energi Protein, secara umum dibedakan menjadi marasmus dan kwashiorkor.
a.       Marasmus
adalah suatu keadaan kekurangan kalori protein berat. Namun, lebih kekurangan kalori daripada protein. Penyebab marasmus adalah sebagai berikut :
1.      Intake kalori yang sedikit.
2.      Infeksi yang berat dan lama, terutama infeksi enteral.
3.      Kelainan struktur bawaan.
4.      Prematuritas dan penyakit pada masa neonates.
5.      Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan yang cukup.
6.      Gangguan metabolism.
7.      Tumor hipotalamus.
8.      Penyapihan yang terlalu dini disertai dengan pemberian makanan yang kurang.
9.      Urbanisasi.
b.      Kwashiorkor
adalah suatu keadaan di mana tubuh kekurangan protein dalam jumlah besar. Selain itu, penderita juga mengalami kekurangan kalori. Penyebabnya adalah :
1.      Intake protein yang buruk.
2.      Infeksi suatu penyakit.
3.      Masalah penyapihan.
Tabel Klasifikasi IMT Menurut WHO :
Klasifikasi
IMT (kg/ m2)
Malnutrisi berat
< 16,0
Malnutrisi sedang
16,0 – 16,7
Berat badan kurang/ malnutrisi ringan
17,0 – 18,5
Berat badan normal
18,5 – 22,9
Berat badan kurang
≥ 23
Dengan resiko
23 – 24,9
Obes I
25 – 29,9
Obes II
≥ 30

2.6 Insidensi
Program Lembaga Pangan Dunia (WFP) dalam penelitannya pada awal tahun 2008 menyebutkan jumlah penderita gizi buruk dan rawan pangan di Indonesia mencapai angka 13 juta. Meski data pemerintah yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari secara resmi menyebutkan penderita gizi buruk hingga tahun 2007 mencapai angka 4,1 juta, atau naik tiga kali lipat dibanding jumlah penderita yang sama di tahun 2005 yakni 1,67 juta jiwa.
Tentunya, angka ini sangat mencengangkan dunia internasional, kenyataan ini membuat salah satu produsen makanan ringan terkemuka di Indonesia menggalang aksi kepedulian dengan mencantumkan data ini dalam kemasan produknya sehingga diharapkan masyarakat berempati dan kemudian mendonasikan sebagian uangnya untuk penanggulangan gizi buruk.
Hingga akhir April 2008, sejumlah bencana masih melanda berbagai daerah, musim penghujan belum kunjung usai, angin puting beliung, rob, banjir bandang dan longsor yang melanda Jawa Tengah dan Jawa Timur dan badai elnina yang berefek pada ombak 4-6 meter di sebagian wilayah laut Indonesia. Musibah ini mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan lahan pertanian. Lahan pertanian yang sedianya menjadi sumber pangan bagi masyarakat, kondisnya hancur, gagal panen (puso). Akibatnya masyarakat terancam kekurangan pangan.
2.7 Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan pada penderita marasmus adalah pemberian diet tinggi kalori dan tinggi protein serta mencegah kekambuhan.
Penderita marasmus tanpa komplikasi dapat berobat jalan asal diberi penyuluhan mengenai pemberian makanan yang baik; sedangkan penderita yang mengalami komplikasi serta dehidrasi, syok, asidosis dan lain-lain perlu mendapat perawatan di rumah sakit.


Penatalaksanaan penderita yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahap:
1.            Tahap awal yaitu 24-48 jam per-tama merupakan masa kritis, yaitu tindakan untuk menyelamat-kan jiwa, antara lain mengkoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan intravena.
a. Cairan yang diberikan ialah larutan Darrow-Glucosa atau Ringer Lactat Dextrose 5%.
b. Cairan diberikan sebanyak 200 ml/kg BB/hari.
c. Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama.
d. Kemudian 140 ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya.
2.            Tahap kedua yaitu penyesuaian.
Sebagian besar penderita tidak memerlukan koreksi cairan dan elektrolit, sehingga dapat langsung dimulai dengan penyesuaian terhadap pemberian makanan.
Penatalaksanaan kwashiorkor bervariasi tergantung pada beratnya kondisi anak. Keadaan shock memerlukan tindakan secepat mungkin dengan restorasi volume darah dan mengkontrol tekanan darah. Pada tahap awal, kalori diberikan dalam bentuk karbohidrat, gula sederhana, dan lemak. Protein diberikan setelah semua sumber kalori lain telah dapat menberikan tambahan energi. Vitamin dan mineral dapat juga diberikan
Dikarenan anak telah tidak mendapatkan makanan dalam jangka waktu yang lama, memberikan makanan per oral dapat menimbulkan masalah, khususnya apabila pemberian makanan dengan densitas kalori yang tinggi. Makanan harus diberikan secara bertahap/ perlahan. Banyak dari anak penderita malnutrisi menjadi intoleran terhadap susu (lactose intolerance) dan diperlukan untuk memberikan suplemen yang mengandung enzim lactase.


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
3.1.1 Riwayat Keluhan Utama
Pada umumnya anak masuk rumah sakit dengan keluhan gangguan pertumbuhan (berat badan semakin lama semakin turun), bengkak pada tungkai, sering diare dan keluhan lain yang menunjukkan terjadinya gangguan kekurangan gizi.
3.1.2 Riwayat Keperawatan Sekarang
Meliputi pengkajian riwayat prenatal, natal dan post natal, hospitalisasi dan pembedahan yang pernah dialami, alergi, pola kebiasaan, tumbuh-kembang, imunisasi, status gizi (lebih, baik, kurang, buruk), psikososial, psikoseksual, interaksi dan lain-lain. Data fokus yang perlu dikaji dalam hal ini adalah riwayat pemenuhan kebutuhan nutrisi anak (riwayat kekurangan protein dan kalori dalam waktu relatif lama).
3.1.3 Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.
3.1.4 Pengkajian Fisik
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.Pengkajian secara umum dilakukan dengan metode head to too yang meliputi: keadaan umum dan status kesadaran, tanda-tanda vital, area kepala dan wajah, dada, abdomen, ekstremitas dan genito-urinaria.
Fokus pengkajian pada anak dengan Marasmik-Kwashiorkor adalah pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkaran lengan atas dan tebal lipatan kulit). Tanda dan gejala yang mungkin didapatkan adalah:
Ø  Penurunan ukuran antropometri
a.       Perubahan rambut (defigmentasi, kusam, kering, halus, jarang dan mudah dicabut)
b.      Gambaran wajah seperti orang tua (kehilangan lemak pipi), edema palpebra
Ø  Tanda-tanda gangguan sistem pernapasan (batuk, sesak, ronchi, retraksi otot intercostal)
a.       Perut tampak buncit, hati teraba membesar, bising usus dapat meningkat bila terjadi diare.
Ø  Edema tungkai
Kulit kering, hiperpigmentasi, bersisik dan adanya crazy pavement dermatosis terutama pada bagian tubuh yang sering tertekan (bokong, fosa popliteal, lulut, ruas jari kaki, paha dan lipat paha)
Ø  Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium, anemia selalu ditemukan terutama jenis normositik normokrom karenaadanya gangguan sistem eritropoesis akibat hipoplasia kronis sum-sum tulang di samping karena asupan zat besi yang kurang dalam makanan, kerusakan hati dan gangguan absorbsi. Selain itu dapat ditemukan kadar albumin serum yang menurun.
Pemeriksaan radiologis juga perlu dilakukan untuk menemukan adanya kelainan pada paru.
3.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin dapat ditemukan pada anak dengan Marasmik-Kwashiorkor adalah:
a.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat, anoreksia dan diare.
b.      Kekurangan volume cairan b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan kehilangan akibat diare.
c.       Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d asupan kalori dan protein yang tidak adekuat.
d.      Risiko aspirasi b/d pemberian makanan/minuman personde dan peningkatan sekresi trakheobronkhial.
e.       Bersihan jalan napas tak efektif b/d peningkatan sekresi trakheobronkhial sekunder terhadap infeksi saluran pernapasan
3.3 Rencana Keperawatan
a. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat,anoreksia dan diare (Carpenito, 2000, hal. 645-655).
Tujuan : Klien akan menunjukkan pening-katan status gizi.
Kriteria: Keluarga klien dapat menjelaskan penyebab gangguan nutrisi yang dialami klien, kebutuhan nutrisi pemulihan, susunan menu dan pengolahan makanan sehat seimbang.
Dengan bantuan perawat, keluarga klien dapat mendemonstrasikan pemberian diet (per sonde/per oral) sesuai program dietetik

Intervensi
Rasional
1. Jelaskan kepada keluarga tentang penyebab malnutrisi, kebutuhan nutrisi pemulihan, susunan menu dan pengolahan makanan sehat seimbang, tunjukkan contoh jenis sumber makanan ekonomis sesuai status sosial ekonomi klien
2. Tunjukkan cara pemberian makanan per sonde, beri kesempatan keluarga untuk melakukannya sendiri.
3. Laksanakan pemberian roborans sesuai program terapi.
4. Timbang berat badan, ukur lingkar lengan atas dan tebal lipatan kulit setiap pagi.
1. Meningkatkn pemahaman keluarga tentang penyebab dan kebutuhan nutrisi untuk pemulihan klien sehingga dapat meneruskan upaya terapi dietetik yang telah diberikan selama hospitalisasi.
2. Meningkatkan partisipasi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi klien, mempertegas peran keluarga dalam upaya pemulihan status nutrisi klien.
3. Roborans meningkatkan nafsu makan, proses absorbsi dan memenuhi defisit yang menyertai keadaan malnutrisi.
4. Menilai perkembangan masalah klien.

3.4 Evaluasi
S:”Klien mengatakan sudah dapat makan dua kali sehari”
O: - tidak terjadi diare
-          Berat badan bertambah
-          Nafsu makan meningkat
A: Masalah teratasi
P: Hentikan intervensi


BAB IV
PENUTUP

1.1  Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa Malnutrisi merupakan suatu keadaan di mana tubuh mengalami gangguan terhadap absorbsi, pencernaan, dan penggunaan zat gizi untuk pertumbuhan, perkembangan dan aktivitas.
Penyebab Malnutrisi secara langsung ialah karena kurangnya asupan makanan: Kurangnya asupan makanan sendiri dapat disebabkan oleh kurangnya jumlah makanan yang diberikan, kurangnya kualitas makanan yang diberikan dan cara pemberian makanan yang salah. Serta karena adanya penyakit infeksi.
Sedangkan penyebab yang tidak langsung ialah kurangnya ketahanan pangan keluarga, kualitas perawatan ibu dan anak, sanitasi lingkungan yang kurang, buruknya pelayanan kesehatan
Penderita marasmus tanpa komplikasi dapat berobat jalan asal diberi penyuluhan mengenai pemberian makanan yang baik; sedangkan penderita yang mengalami komplikasi serta dehidrasi, syok, asidosis dan lain-lain perlu mendapat perawatan di rumah sakit.
Penatalaksanaan kwashiorkor bervariasi tergantung pada beratnya kondisi anak. Keadaan shock memerlukan tindakan secepat mungkin dengan restorasi volume darah dan mengkontrol tekanan darah. Pada tahap awal, kalori diberikan dalam bentuk karbohidrat, gula sederhana, dan lemak. Protein diberikan setelah semua sumber kalori lain telah dapat menberikan tambahan energi. Vitamin dan mineral dapat juga diberikan.
1.2  Saran
Pemenuhan akan kebutuhan gizi dalam tubuh merupakan salah satu cara meminimaklisir terjadinya Malnutrisi. Cara itu dapat dilakukan dengan cara mengkonsumsi makanan yang mengandung empat sehat lima sempurna.




DAFTAR PUSTAKA

Sediaoetama,A.D.1985.Ilmu Gizi.jil 1.Dian Rakyat : Jakarta.
Sediaoetama,A.D.1989.Ilmu Gizi.jil 2.Dian Rakyat : Jakarta.
Supariasa,I. Dewa Nyoman S. 2001.  Penilaian Status Gizi. EGC : Jakarta.
Suhardjo. 1988 . Perencanaan Pangan dan Gizi . Bumi Aksara : Jakarta.
Doenges, E. Marilyn. Rencana  Asuhan Keperawatan. Edisi 3. EGC : Jakarta.